Veela; Seductive Creature in Harry Potter Universe

Veela were women … the most beautiful women Harry had ever seen … except that they weren’t -they couldn’t be- human. This puzzled Harry for a moment while he tried to guess what exactly they could be; what could make their skin shine moon-bright like that, or their white-gold hair fan out behind them without wind. But then the music started, and Harry stopped worrying about anything at all.
Harry Potter and The Goblet of Fire-J.K.Rowling, 2001: 104

Veelas are bewitching semi-human magical beings with white-gold hair and skin that appears so shine but, turn out to be scary when angry. They are stunningly beautiful and magically captivating woman who put men into a trance when singing or dancing and can turn into hideous bird-like creatures capable of throwing balls of fire when anger. They appear to be young, beautiful human woman, and their appearance and especially their dances are magically seductive to almost all males. The interesting fact is Veela’s beautiful voices are as beautiful as the rest of them, and one who hears them loses all thoughts of food, drink or sleep.

The veela had started to dance, and Harry’s mind had gone completely and blissfully blank. All that mattered in the world was that he kept watching the veela, beause if they stopped dancing, terrible things would happen. And as the veela danced faster, wild, half-formed thoughts started chasing through Harry’s dazed mind. He wanted to do something impressive, right now. Jumping from the box into the stadium seemed a good idea. The music stopped. Next to him, Ron was frozen in an attitude that looked as though he were about to dive from a springboard.
Harry Potter and The Goblet of Fire-J.K.Rowling, 2001: 104

In Harry Potter story, Veelas appeared to accompany the Bulgarian Quidditch team. They are known to take jobs as cheerleaders for leading Quidditch teams including the Bulgarian team during the Quidditch World Cup. They are the mascots at the Quidditch World Cup. These mascots dance to hypnotize the players as well as the fans on the other team. Other hints also point to Veelas being Eastern European origin, although the Delacour sisters, who are from France, are proof that they can be found all over Europe.

Pic: http://www.hp-lexicon.org (MaryquiZc)

Leta Lestrange’s Family

  • Ayah Kandung: Corvus Lestrange
  • Ibu Kandung: Laurena Kama
  • Saudara Tiri: Yusuf Kama
  • Ibu Tiri: Clarisse Tremblay
  • Saudara Tiri: Corvus Lestrange (junior)f

Penjelasan

Berikut akan dijabarkan secara ringkas mengenai keluarga Leta Lestrange dan sedikit penjelasannya.

  • Leta Lestrange. Puteri kandung Corvus Lestrange dan Laurena Kama.
  • Corvus Lestrange. Ayah kandung Leta Lestrange. Berasal dari keluarga penyihir tersohor bermarga ‘Lestrange’. Semua laki-laki di keluarga Lestrange diberi nama Corvus Lestrange.
  • Laurena Kama. Ibu kandung Leta Lestrange. Wanita asal Senegal yang sebelumnya sudah memiliki suami dan anak laki-laki bernama Yusuf Kama. Laurena Kama kemudian diculik atau direbut paksa secara sihir oleh Corvus Lestrange. 
  • Yusuf Kama. Yusuf Kama adalah putera kandung Laurena Kama dengan suami aslinya yang terdahulu. Yusuf Kama dan Leta Lestrange adalah saudara tiri satu ibu beda ayah. Kok bisa? Karena ayah Leta Lestrange, Corvus Lestrange, awalnya begitu terpikat pada Laurena Kama (seorang wanita bersuami -keduanya asal Senegal- dan sudah memiliki seorang anak laki-laki, Yusuf Kama). Corvus Lestrange menculik wanita yang sudah bersuami itu secara sihir, lalu menghamilinya dan lahirlah Leta Lestrange. Nah! Yusuf Kama dendam karena hal itu membuat ayahnya terpukul dan keluarganya hancur akibat ulah Corvus Lestrange.
  • Clarisse Tremblay: Ibu Tiri Leta Lestrange. Setelah Corvus Lestrange memiliki anak Leta Lestrange, beberapa tahun kemudian lahirlah Corvus Lestrange (junior) dari rahim wanita lain bernama Clarisse Tremblay.
  • Corvus Lestrange (junior): Saudara tiri Leta Lestrange. Leta Lestrange -si kakak tiri- menukar bayi Corvus Lestrange (junior) dengan bayi lain ketika mereka berada di sebuah perjalanan laut bersama seorang pengasuh di sebuah kapal. Kapal tersebut ternyata karam. Akibatnya, bayi itu meninggal karena tenggelam.

Nb: pembahasan yang menyangkut isu rasial tak akan dibahas terlalu dalam disini. Kalau sudah menonton filmnya, pasti akan paham sendiri.

Beberapa Istilah Dalam Film Fantastic Beasts: Crimes of Grindelwald

  • OBSCURUS: kekuatan sihir hitam yang muncul dari seorang penyihir yang sedang berada dalam kondisi tertekan hebat. Ada kekuatan sihir dalam dirinya yang ingin dia keluarkan tapi mati-matian dia tahan karena alasan tertentu. Bahasa gampangnya, seperti orang yang sedang mengalami perundungan (bullying), biasanya dirinya amat tertekan. Nah, hal itulah yang mematik kekuatan sihir hitam itu muncul dari dalam diri penyihir tersebut. Terkadang, si obscurus mengambil alih diri sang penyihir sampai sampai dia sendiri tak mampu mengandalikan dan membuat kekacauan. Karakter inilah yang membuat obscurus disebut parasit.
  • OBSCURIAL: penyihir yang memiliki atau membawa obscurus dalam dirinya.
  • MALEDICTUS: kutukan yang menyebabkan seorang penyihir dimana nantinya akan berubah selamanya menjadi satu sosok hewan tertentu. Kutukan ini berasal dari orang tuanya (ibu) dimana kondisi ini hanya bisa terjadi atau menurun pada perempuan.
  • NO-MAJ: istilah untuk menyebut manusia di kalangan para penyihir Amerika (sama artinya seperti ‘muggle’, istilah untuk menyebut manusia di kalangan para penyihir Inggris)

Introvert Di Antara Para Ekstrovert? Tak Masalah

Bagi para introvert, ketenangan adalah surga. Setelah bertemu dengan banyak orang seharian, menjauh dari hiruk pikuk manusia dan segala kebisingannya menjadi tujuan utama ketika energi sudah sangat terkuras. Sebaliknya, hal itu tidak berlaku bagi para ekstrovert. Bahan bakar penyemangat mereka adalah euforia, bertemu teman, dan orang lain. Bahkan ketika pekerjaan menuntut mereka untuk bertemu orang baru setiap hari, itu bukan masalah besar. Biasanya, hal itu justru membuat mereka semangat.

Tidak semua individu beruntung bisa bekerja sesuai keinginan. Ada kalanya situasi tidak memungkinkan untuk terlalu pilih-pilih pekerjaan, tidak terkecuali para introvert. Di dunia di mana para ekstrovert mendapat peluang lebih baik, manusia introvert masa kini perlu bersedia menyesuaikan diri. Memang serba salah. Terkadang kondisi keuangan atau beban keluarga memperberat keputusan untuk mengejar impian yang prosesnya tentu saja tidak singkat dan penuh pengorbanan. Di sisi lain, ada hasrat untuk berhasil sesuai minat, bisa konsentrasi bekerja sendiri, bekerja dengan tenang tanpa gangguan rekan kerja yang mengajak bercengkerama, bergosip, hore-hore dan sebagainya.

Lalu bagaimana bagi para introvert yang sudah terlanjur memilih untuk bekerja tidak sesuai minat, apalagi dikelilingi banyak manusia ekstrovert? Tidak perlu rendah diri karena tidak pandai bersosialisasi. Kita punya nilai lebih ketika bergabung bersama mereka.

  • Penyeimbang. Tentu saja peran introvert penting dalam suatu kelompok. Bisa bayangkan andai semua orang dalam satu kantor hanya berisi ekstrovert? Siapa yang bicara duluan ketika berkumpul? Apakah mereka bisa saling bersabar mendengar rekannya mengoceh panjang lebar? Mungkinkah semua ektrovert bisa sabar untuk tidak perlu ada pembicaraan yang terpotong? Justru adanya introvert akan menyeimbangkan suasana. Mengapa? Karena introvert tersohor akan kemampuannya menjadi pendengar yang baik. Kalau semua menjadi sosok pembicara, lalu siapa yang mendengarkan?
  • Pengamat. Bukan hanya diam atau menimpali sesekali. Ketika mendengarkan lawan bicara, para introvert umumnya juga mengamati. Entah pikiran macam apa yang sudah teraduk-aduk di kepalanya ketika sedang mendengarkan. Yang jelas, bukan hanya telinga yang bekerja. Ketika sedang mendengarkan, pikiran dan hati ikut bekerja mengolah informasi yang keluar dari mulut lawan bicaranya.
  • Kemampuan adaptasi. Seorang introvert yang sudah cocok dengan seorang kawan ekstrovert akan nyaman saja menghabiskan waktu berlama-lama bersama. Tapi bagaimana kalau terlalu banyak ektrovert dalam satu kantor? Stress. Cepat lelah. Energi terkuras karena harus lebih banyak interaksi dengan rekan-rekan kerja bahkan mungkin konsumen. Rasanya ingin berada di dalam kotak dan konsentrasi bekerja? Wajar! Tapi ingat satu hal. Kita sedang belajar adaptasi. Seorang introvert mungkin tak akan bisa jadi sosok penghangat ruangan hingga semua orang tertawa mendengar lelucon kita. Paling tidak, kita jadi tahu saat yang tepat untuk diam dan kapan saatnya harus memberanikan diri angkat suara.
  • Penghasilan. Ini adalah alasan paling kuat mengapa seorang introvert bertahan dalam suatu pekerjaan. Terlebih lagi bila keadaan benar-benar kepepet. Tidak salah, kok. Kenapa? Pahami lah bahwa para makhluk ekstrovert belum tentu kuat bekerja dua belas bulan duduk diam di balik meja menghadap buku atau layar komputer tanpa banyak bertemu orang lain. Sebaliknya, ada si introvert sedang mencari nafkah. Harus bergaul luas dengan orang baru hampir setiap hari, tapi berani memutuskan untuk tetap menjalani pekerjaan tersebut. Itu hebat! Kamu hebat!

Tetap jaga hawa positif di dalam diri. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi suatu saat nanti. Siapa tahu pekerjaan kita saat ini adalah lompatan dan pelajaran berharga sebelum dipertemukan dengan kesempatan untuk meraih mimpi yang sesungguhnya.

‘A Very Good Lives’ by J.K. Rowling

J.K.Rowling justru bersyukur karena kegagalan memberi banyak pelajaran yang pengalamannya sulit digantikan oleh apapun. Kegagalan itulah yang membuka pintu untuk dia berani mengangkat imajinasi liarnya menjadi sesuatu yang berharga. Kegagalan juga membuatnya lebih mengenal diri sendiri bahwa ternyata dia lebih kuat dari yang ia bayangkan dan tak luput untuk menyadari bahwa dia punya teman-teman yang lebih berharga daripada permata.

“Seandainya WAKTU ITU SUKSES DALAM HAL LAIN, MUNGKIN SAYA TIDAK AKAN PERNAH MENEMUKAN TEKAD KUAT untuk berhasil di satu-satunya bidang yang benar-benar saya yakini.
Saya terbebas karena KETAKUTAN TERBESAR saya sudah terjadi, dan SAYA MASIH HIDUP,
saya punya anak perempuan yang sangat saya sayangi, punya sebuah mesin ketik tua, serta INSPIRASI YANG BESAR. Dan DASAR JURANG justru menjadi FONDASI yang kukuh untuk membangun kembali hidup saya.”

J.K.Rowling

Pengalaman kerjanya di Amnesty International cukup mengobok-obok sisi kemanusiannya. Dari pengalaman itulah, J.K.Rowling juga mengajak untuk mau berEMPATI, mempelajari, ikut merasakan PENGALAMAN HIDUP dan penderitaan ORANG LAIN TANPA HARUS MENGALAMI SENDIRI. Itu semua bisa dirasakan kalau kita mau menggunakan imajinasi kita untuk membayangkan, memposisikan diri, seperti apa rasanya jadi pihak yang menderita (korban kekejaman).

“Setiap hari saya melihat lebih banyak bukti betapa kejamnya perbuatan manusia terhadap SESAMAnya HANYA DEMI MEREBUT atau mempertahankan KEKUASAAN … “

J.K.Rowling

Di akhir pidato, J.K.Rowling empowering para wisudawan dan wisudawati untuk menggunakan ‘pengaruhnya’ supaya berani bersuara, terutama untuk mereka yang tidak berdaya.

“Kita tidak membutuhkan sihir untuk mengubah dunia kita; kita sudah memiliki semua kemampuan yang kita butuhkan; kita memiliki kemampuan untuk membayangkan hal yang lebih baik.” J.K.Rowling.

Nagini of Fantastic Beasts

Nagini … Nagini … Pada awal kemunculan nagini di cerita Harry Potter, gambaran mengenai sosok satu ini cukup mengerikan, selayaknya hewan ular pada umumnya. Tak terlalu istimewa selain keberadaannya yang seolah menstimulasi kemampuan parseltongue dalam diri seorang Harry Potter.

Image tokoh Nagini dalam magical world ciptaan J.K.Rowling seketika berubah. Ia bukan hanya sosok hewan menakutkan. Seorang gadis cantik berparas Asia akhirnya benar-benar mencuri perhatian ketika Warner Bros memperkenalkannya sebagai Nagini, seorang maledictus, di trailer film Fantastic Beasts: the Crimes of Grindelwald.

cr: (@fantasticbeastsmovie
– Warner bros)

Nagini ialah seekor ular raksasa yang panjangnya sekitar dua belas kaki, dengan ekornya yang memiliki pola berlian. Ia merupakan ular hijau betina yang fisiknya besar dan panjang milik Voldemort dalam serial Harry Potter.

Voldemort dapat bertahan hidup dengan meminum Nagini’s milk atau susu Nagini. Dalam hal ini susu dapat diartikan sebagai racun atau venom. Seperti yang dikutip dari situs Pottermore.com:





“Nagini seemed integral to Lord Voldemort’s survival before he could be restored to his body, and we learnt, quite grotesquely, that Voldemort even tasked Wormtail to ‘milk’ Nagini so he could live off her venom to keep his strength up.”

Meski begitu, masih menjadi misteri bagaimana Nagini bisa jatuh ke tangan Voldemort, bagaimana akhirnya ia menjalani hidup bersama villain tersohor di jagat Harry Potter itu, dan bagaimana pula Nagini versi gadis cantik di Fantastic Beasts itu bisa menjadi maledictus. Tampaknya, jalan hidup Nagini sebelum terkutuk menjadi maledictus cukup memilukan.

Kisah Asli Pocahontas: Rebecca Rolfe





Siapakah Rebecca Rolfe?
Apa hubungan wanita ini dengan Pocahontas?

Pada artikel sebelumnya, ditulis bahwa Pocahontas dan John Smith sesungguhnya tidak memiliki hubungan yang begitu istimewa. Ia justru sempat menikah dengan pria suku Indian asli ketika usianya idanggap cukup untuk menikah, 14 tahun.

Setelah sempat ditawan, Pocahontas akhirnya bangkit dan mendapatkan kebebasannya setelah mempelajari adat, agama, dan kebudayaan setempat. Setelah memeluk agama Kristen, ia lalu mengganti namanya menjadi Rebecca. Tak lama kemudian, ia menikah dengan John Rolfe, seorang pebisnis tembakau, dan dianugerahi seorang putera bernama Thomas Rolfe. Ia kemudian dikenal dengan nama Rebecca Rolfe. Mereka kemudian pindah ke pedesaan Brentford, Inggris. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Pocahontas sempat tidak sengaja bertemu dengan John Smith, namun pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir mereka. Meski begitu, John Smith sempat menulis sepucuk surat kepada Ratu Anne -ratu Inggris kala itu- yang menceritakan tentang jasa-jasa dan kebaikan Pocahontas pada Inggris ketika masa-masa awal di Jamestown.

Pocahontas tutup usia pada saat menginjak 21 tahun. Semua bermula ketika ia dan suaminya memulai perjalanan kembali ke Virginia, Amerika Serikat. Baru sampai di Sungai Thames, Pocahontas sakit parah. Kondisinya tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan dan ia pun dibawa kembali ke daratan Inggris. Pocahontas dikabarkan meninggal akibat sakit pneumonia. Sumber lain menyebutkan bahwa ia sakit disentri. Demi mengenang Pocahontas, dibuatlah sebuah patung yang kini berdiri di halaman Gereja St. George di Gravesend, Kent, Inggris, dimana jasadnya juga bersemayam di sana. Pocahontas dikenang di Inggris karena kisah kepahlawanan, keberanian, dan jasa-jasanya yang dianggap sebagai pendamai antara suku Indian dan Inggris. Meski begitu, kondisi suku Indian mulai berubah suram seiring waktu setelah Pocahontas meninggal.

Sumber utama: http://www.history.com

Kisah Asli Pocahontas: Hubungan Dengan John Smith

Hidup memang tak seindah di negeri dongeng. Padahal, di negeri dongeng saja ada penjahat.

Setidaknya, itu juga yang sesungguhnya terjadi pada Pocahontas. Berdasarkan situs National Park Service’s Historic Jamestowne, nama asli Pocahontas adalah Amonute. Ia juga memiliki nama lain Matoaka, namun terkenal dengan nama Pocahontas. Ketika bertemu pada tahun 1608, John Smith berusia 28 tahun sementara Pocahontas berusia 12 tahun. Pocahontas dan John Smith dikabarkan tak benar-benar bersama. Banyak sumber justru menyebutkan bahwa mereka sebenarnya tak pernah saling cinta, tapi hanya berteman.

Pada cerita asli, tak ada kisah cinta mendayu-dayu yang perlu diberi perhatian. Nama Pocahontas justru membuka bagian catatan sejarah antara penjajah Inggris dan suku asli Amerika, yaitu suku Indian. Pocahontas membawa kebaikan bagi para penjajah Inggris, memberikan makanan ketika mereka membutuhkan pangan. Semua bisa berjalan baik berkat jasa Pocahontas meyakinkan ayahnya yang merupakan kepala suku Powhatan. Namun, penjajah tersebut sepertinya kurang bersyukur terhadap kebaikan dari suku Indian hingga meletuslah perang pada tahun 1609. John Smith yang berseteru dengan kepala suku Powhatan akhirnya kembali ke Jamestown karena terluka parah. Sementara Pocahontas menikah dengan seorang pria sesama sukunya bernama Kocoum ketika menginjak usia 14 tahun.

Pada tahun 1613, Pocahontas diculik oleh seorang kapten Inggris bernama Samuel Argall setelah terlebih dahulu membunuh Kocoum, suami Pocahontas. Tujuannya adalah untuk memeras dan menekan suku Indian terutama kepala suku Powhatan karena ia tahu, Pocahontas adalah puteri kesayangan ayahnya. Dengan begitu, diharapkan suku Indian bersedia menuruti apapun permintaan penjajah Inggris. Wanita Indian itu dibawa meninggalkan tanah kelahirannya yang saat ini kita kenal dengan Amerika ke daratan Eropa, tepatnya Henrico, Inggris. Selama menjadi tawanan, Pocahontas dikabarkan sempat menjadi korban pemerkosaan.

Bagaimana kelanjutan cerita Pocahontas? Apakah hidupnya semakin memburuk setelah jauh dari tanah kelahirannya? Masih adakah harapan bagi Pocahontas untuk menjalani hidupnya dengan lebih baik? Baca artikel lanjutan pada unggahan berikutnya.

Sumber utama: http://www.history.com.

DIY Plastic Bookmark

Ide pembuatan pembatas buku berbahan mika ini berawal dari ketidak-sengajaan. Bermula dari rutinitas membeli kapas bentuk persegi merk terkenal yang kemasannya bernuansa warna pink itu. Bagian atas dan bawahnya terdapat mika transparan yang sayang kalau dibuang begitu saja. Lama-kelamaan, tercetuslah ide untuk memanfaatkan mika itu.

Bahan utama pembuatan pembatas buku di sini menggunakan mika tersebut. Dalam satu kemasan kapas persegi, terdapat dua mika. Bentuknya sudah rapi dengan masing-masing sudut melengkung. Lebih praktis dan tidak perlu repot-repot mengukur dan memotong secara manual. Cara pembuatannya mudah, kok.

Alat dan bahan:

  • MIKA TRANSPARAN di dalam kapas kecantikan
  • PITA meteran bekas (boleh ganti pita apa saja asal tidak terlalu besar)
  • BANDUL kecil (saya pakai bandul gelang koleksi lama)
  • Pembolong kertas
  • Penggaris
Alat dan bahan

Cara membuat:

  • Tandai, bagian mana yang akan dilubangi. Ukur titik tengah mika menggunakan penggaris supaya tidak panjang sebelah.
  • Lubangi bagian tengah mika menggunakan pembolong kertas.
  • Pasang pita sambil selipkan bandulnya. Kalau tak ada bandul, skip saja.

Gampang, kan! Selamat mencoba.

Grindelwald: Our Favourite Villain

Gellert Grindelwald adalah tokoh sentral yang berambisi mengembalikan kejayaan dunia sihir dengan menghimpun dukungan dari para penyihir untuk sama-sama mewujudkannya. Baginya, muggles alias manusia lah yang seharusnya mengakui dan tunduk pada para penyihir, bukan para penyihir yang menyembunyikan keberadaannya dari para muggles seperti yang terjadi selama ini.

Salah satu sisi menarik dari film ini adalah tokoh antagonis ini berhasil menarik ‘dukungan’ dari para penyihir yang merasa punya masa lalu yang buruk atau traumatis, dan mereka merasa Grindelwald lah jawaban atas kesesakan mereka. Di luar itu, ada juga yang tidak setuju dengan Grindelwald meskipun mereka sendiri juga penyihir.

Apa yang dilakukan Grindelwald ini kurang lebih mirip seperti sisi gelap dalam kehidupan manusia yang masuk dan menawarkan ‘bantuan’ atas struggles, pain and all traumas di masa lalu kita. Kita merasa ‘boleh’ melakukan pembalasan setelah semua rasa sakit, ketidak-adilan, dan kepahitan masa lalu. Tapi apa cara itu benar … ?

pic cr: Warner Bros

Design a site like this with WordPress.com
Get started